"Banyak anak, banyak rezeki."
Namun, di tengah gempuran inflasi, biaya pendidikan yang melambung, dan tuntutan gaya hidup modern, pepatah ini sering kali dianggap usang atau bahkan "berbahaya" jika ditelan mentah-mentah.
Tetapi, jika kita menyelam lebih dalam, apakah benar filosofi ini sudah tidak berlaku? Ataukah kita hanya perlu mendefinisikan ulang apa itu "Rezeki" di zaman sekarang?
Mari kita bedah perspektifnya.
1. Rezeki Bukan Sekadar Angka di Saldo Bank
Dalam pemikiran modern, rezeki sering kali disempitkan hanya sebatas materi. Padahal, bagi keluarga dengan banyak anak, rezeki hadir dalam bentuk kekayaan emosional.
- Rumah yang tidak pernah sepi dari tawa.
- Dukungan moral antar saudara yang tak ternilai harganya.
- Rasa syukur yang terus terasah karena setiap tantangan dihadapi bersama.
Inilah rezeki berupa "kesehatan mental dan kebahagiaan" yang sering kali tidak bisa dibeli dengan uang.
2. Diversifikasi Talenta: "Satu Anak, Satu Pintu Peluang"
Di zaman dulu, banyak anak berarti banyak tenaga kerja untuk di sawah. Di jaman sekarang, banyak anak berarti banyak potensi masa depan.
Setiap anak lahir dengan sidik jari dan bakat yang berbeda.
Satu mungkin menjadi ahli teknologi AI, satu menjadi seniman, satu lagi mungkin seorang pengusaha hebat.
Memiliki banyak anak berarti kita sedang menanam banyak benih kebaikan di dunia.
Setiap kesuksesan yang mereka raih nantinya adalah "rezeki" bagi keluarga dan masyarakat luas.
3. Jaring Pengaman Sosial di Masa Tua
Di era yang semakin individualis dan penuh dengan kesepian (loneliness epidemic), memiliki keluarga besar adalah sebuah kemewahan sosial.
Saudara kandung adalah sahabat seumur hidup yang paling terpercaya.
Ketika orang tua memasuki masa senja, mereka tidak akan merasa sendirian karena memiliki banyak "tangan" yang siap membantu, bukan karena kewajiban finansial, melainkan karena ikatan kasih sayang yang kuat.
4. Rezeki Menjemput Ikhtiar (Upaya)
Secara spiritual, banyak orang percaya bahwa setiap nyawa yang lahir sudah membawa "bekalnya" masing-masing dari Sang Pencipta. Namun, dalam konteks modern, hal ini berarti "motivasi".
Kehadiran anak-anak sering kali menjadi "bahan bakar" paling ampuh bagi orang tua untuk bekerja lebih cerdas, lebih gigih, dan lebih kreatif. Banyak orang tua yang justru mencapai puncak karier atau bisnisnya justru setelah mereka memiliki tanggung jawab besar untuk menghidupi anak-anaknya.
Tantangan: Mengubah Kuantitas Menjadi Kualitas
Tentu saja, "Banyak Anak Banyak Rezeki" hanya akan menjadi kenyataan jika kita berkomitmen pada kualitas pengasuhan. Di zaman ini, rezeki tidak datang otomatis hanya dengan menambah jumlah anak. Rezeki itu harus dijemput dengan:
- Pendidikan yang Layak: Agar anak menjadi aset bagi dunia, bukan beban.
- Kesehatan Mental: Memastikan setiap anak merasa dicintai secara adil.
- Kecukupan Kasih Sayang: Karena rezeki yang paling besar adalah karakter anak yang baik (sholeh/sholehah).
Kesimpulan
Jadi, apakah banyak anak masih berarti banyak rezeki?
Jawabannya adalah: "Ya, jika kita siap menjadi pengelola yang baik".
Anak-anak adalah amanah yang membawa keberkahan.
Di jaman yang serba cepat ini, memiliki keluarga besar yang solid adalah bentuk perlawanan terhadap rasa sepi dan individualisme.
Rezeki itu luas; ia bisa berupa bantuan dari arah yang tak terduga, kemudahan urusan, hingga rasa bangga melihat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat.
Apakah Anda setuju dengan filosofi ini, atau punya pengalaman pribadi bagaimana kehadiran buah hati mengubah "pintu rezeki" Anda?
Mari berbagi di kolom komentar!**

Komentar
Posting Komentar