Bilamana jika: tren pekerja industri sekarang sudah bergeser pada robotika ai karena tuntutan profit dari para kapitalis, apakah manusia perlu transhumanoid supaya dapat tetap memperoleh pekerjaan dan berkompetisi dengan teknologi dalam dunia industri?
Pertanyaan tersebut menyentuh isu yang sangat krusial dan menjadi perdebatan hangat saat ini.
Ya.. ada tren yang jelas di mana industri semakin mengadopsi robotika dan AI untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan profitabilitas, didorong oleh logika kapitalisme.
Kalimat ilustrasi: saya terpaksa begini karena biaya hidup dan biaya perawatan istri sekarang mahal..
Pertanyaan apakah manusia perlu menjadi "transhumanoid" untuk tetap relevan dalam pasar kerja industri di masa depan memiliki beberapa lapisan jawaban:
Argumen yang Mendukung Transhumanoid sebagai Keperluan:
- Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi: Robot dan AI seringkali dapat bekerja lebih cepat, lebih akurat, dan tanpa lelah dibandingkan manusia dalam tugas-tugas repetitif dan berbahaya. Untuk dapat bersaing dalam hal kecepatan dan efisiensi, peningkatan kemampuan fisik dan kognitif manusia melalui teknologi mungkin terlihat sebagai solusi.
- Adaptasi terhadap Tugas yang Berubah: Seiring dengan otomatisasi tugas-tugas rutin, pekerjaan manusia di masa depan mungkin akan lebih fokus pada kreativitas, pemecahan masalah kompleks, inovasi, dan interaksi sosial yang mendalam. Teknologi transhumanoid berpotensi meningkatkan kemampuan kognitif dan sensorik manusia untuk memenuhi tuntutan ini.
- Mengatasi Keterbatasan Biologis: Teknologi dapat membantu manusia mengatasi keterbatasan fisik seperti kekuatan, daya tahan, atau kecepatan reaksi, sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan pekerjaan yang sebelumnya tidak mungkin.
- Persaingan Global: Dalam pasar global yang semakin kompetitif, negara-negara atau perusahaan yang mengadopsi teknologi canggih, termasuk yang meningkatkan kemampuan pekerja mereka, mungkin memiliki keunggulan. Hal ini dapat mendorong negara lain untuk mengikuti tren yang sama.
darkFactory
Argumen yang Menentang Transhumanoid sebagai Keperluan Mutlak:
- Fokus pada Keunikan Manusia: Kekuatan manusia tidak hanya terletak pada kecepatan atau efisiensi fisik. Kreativitas, intuisi, empati, kemampuan beradaptasi dalam situasi yang tidak terduga, dan kemampuan membangun hubungan sosial yang kompleks adalah aset unik manusia yang sulit direplikasi oleh AI. Pekerjaan masa depan mungkin akan lebih menghargai kualitas-kualitas ini.
- Potensi Ketidaksetaraan: Jika teknologi transhumanoid mahal dan tidak dapat diakses oleh semua orang, hal ini dapat menciptakan jurang ketidaksetaraan yang lebih besar dalam pasar kerja, di mana hanya segelintir orang "yang ditingkatkan" yang dapat bersaing.
- Implikasi Etis dan Sosial: Transformasi manusia melalui teknologi menimbulkan berbagai pertanyaan etis dan sosial tentang identitas, privasi, keamanan, dan masa depan kemanusiaan. Apakah kita ingin menciptakan masyarakat di mana manusia "ditingkatkan" dan "tidak ditingkatkan" terpisah?
- Alternatif Strategi: Daripada fokus pada transformasi biologis manusia, solusi lain untuk mempertahankan relevansi dalam pasar kerja bisa berupa:
- Reskilling dan Upskilling: Melatih manusia untuk pekerjaan yang membutuhkan keterampilan yang tidak mudah diotomatisasi.
- Penciptaan Lapangan Kerja Baru: Fokus pada industri dan pekerjaan baru yang muncul seiring dengan perkembangan teknologi.
- Redistribusi Kekayaan dan Pendapatan: Mengimplementasikan kebijakan ekonomi yang memastikan bahwa manfaat dari otomatisasi didistribusikan secara lebih merata.
- Fokus pada Kesejahteraan dan Tujuan Selain Pekerjaan: Mengubah paradigma nilai di masyarakat agar tidak hanya berpusat pada pekerjaan dan produktivitas.
Kesimpulan:
Menurut saya, manusia tidak perlu menjadi transhumanoid dalam pengertian ekstrem untuk tetap memperoleh pekerjaan di masa depan, meskipun teknologi akan memainkan peran yang semakin besar dalam bagaimana kita bekerja.
Fokus utama seharusnya adalah pada memanfaatkan keunikan manusia dan beradaptasi dengan perubahan melalui pendidikan, pelatihan, dan penciptaan lapangan kerja baru. Sementara teknologi bantu (assistive technology) dan peningkatan kemampuan tertentu mungkin bermanfaat dalam beberapa sektor, gagasan bahwa semua manusia harus secara radikal mengubah diri mereka secara biologis untuk bersaing dengan robotika AI menimbulkan banyak pertanyaan etis dan sosial yang mendasar.
Lebih penting untuk membangun masyarakat yang adil dan inklusif di mana manfaat dari kemajuan teknologi didistribusikan secara merata, dan di mana nilai manusia tidak hanya diukur berdasarkan produktivitas ekonomi. Kita perlu memikirkan kembali model ekonomi dan sosial kita agar dapat mengakomodasi perubahan lanskap pekerjaan yang disebabkan oleh AI, tanpa harus mengorbankan esensi kemanusiaan kita.
Meskipun demikian, penelitian dan pengembangan teknologi transhumanoid mungkin akan terus berlanjut, dan di masa depan, pilihan untuk meningkatkan kemampuan diri mungkin akan menjadi lebih umum. Namun, hal ini harus dilakukan dengan pertimbangan etis yang matang dan dengan memastikan akses yang adil bagi semua orang, bukan sebagai keharusan untuk sekadar bertahan dalam pasar kerja.
Secara harifiah:
Namun disi lain, ada tipikal manusia yang suka meng kejar-kejar uang sehingga bagi yang bersangkutan "uang tetap lah uang.. hidup butuh uang.. manusia bertanggung jawab atas hidup nya sendiri sendiri, bukan orang lain.. uang adalah validasi rasa aman.. sehingga untuk menghadapi kompetisi, manusia pasti akan memutuskan tindakan evolusi yang sekiranya dianggap perlu.."
Lagi pula hari gini, wanita mana yang berani menolak "skinCare"..?
Seperti pepatah lokal yang mengatakan:
Ora e dan, ora ke du man..


Komentar
Posting Komentar