Dampak Buruk Banyak Anak Banyak Rejaki

Memutuskan untuk memiliki banyak anak di zaman sekarang memang memiliki tantangan yang jauh berbeda dibandingkan generasi orang tua atau kakek-nenek kita dulu.

Istilah "banyak anak banyak rezeki" kini sering kali berbenturan dengan realitas ekonomi dan sosial yang semakin kompleks.

Berikut adalah beberapa dampak buruk atau tantangan signifikan jika memiliki banyak anak di era modern:


1. Beban Finansial yang Sangat Tinggi

Ini adalah dampak yang paling terasa. Di tahun 2025, inflasi pendidikan dan kesehatan meningkat jauh lebih cepat daripada kenaikan gaji rata-rata.

  • Biaya Pendidikan: Menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi dengan kualitas yang layak membutuhkan dana yang luar biasa besar.
  • Kebutuhan Dasar: Harga pangan, tempat tinggal yang layak (properti), dan transportasi terus merangkak naik. Memiliki banyak anak berarti membagi sumber daya finansial yang terbatas ke banyak kepala.


2. Penurunan Kualitas Pengasuhan (Quality vs Quantity)

Zaman sekarang, tuntutan terhadap anak bukan lagi sekadar "bisa makan", tapi juga perkembangan kognitif, emosional, dan sosial.

  • Kurangnya Perhatian Personal: Setiap anak membutuhkan perhatian khusus, pendampingan belajar, dan ruang untuk didengar. Dengan terlalu banyak anak, orang tua berisiko kehilangan momen-momen penting atau tidak bisa memberikan dukungan emosional yang mendalam secara merata.
  • Risiko Parentification: Sering kali, anak sulung dipaksa "menjadi orang tua kedua" bagi adik-adiknya sebelum waktunya, yang bisa berdampak pada kesehatan mental mereka di masa depan.


3. Kesehatan Mental dan Fisik Orang Tua

Parenting di era modern sangatlah melelahkan (burnOut).

  • Kelelahan Kronis: Mengurus banyak anak tanpa bantuan asisten rumah tangga atau keluarga besar (yang kini semakin jarang karena sistem keluarga inti) dapat menyebabkan stres berat bagi orang tua.
  • Kehilangan Jati Diri: Orang tua, terutama ibu, berisiko kehilangan waktu untuk pengembangan diri, karier, atau sekadar hobi karena seluruh waktunya habis untuk urusan domestik.


4. Persaingan Global yang Semakin Ketat

Dunia masa depan menuntut keahlian (skill) yang spesifik dan tinggi.

  • Investasi Masa Depan: Untuk membuat anak mampu bersaing di era AI dan teknologi, mereka membutuhkan kursus tambahan, akses teknologi, dan jejaring. Memberikan fasilitas ini kepada banyak anak secara berkualitas akan jauh lebih sulit dibandingkan kepada satu atau dua anak.


5. Dampak Lingkungan dan Ekologis

Secara makro, populasi yang meledak memberikan tekanan pada bumi.

  • Jejak Karbon: Setiap individu baru menambah konsumsi energi, sampah plastik, dan penggunaan air bersih. Di tengah krisis iklim, memiliki banyak anak berarti menambah beban konsumsi sumber daya alam yang semakin terbatas.


6. Ruang Privasi dan Kepadatan Hunian

Harga tanah yang mahal membuat luas rumah tinggal di perkotaan semakin menyusut. Memiliki banyak anak dalam rumah yang sempit dapat meningkatkan tingkat stres anggota keluarga karena kurangnya ruang privasi (personal space).


Kesimpulan:

Dampak buruknya bukan berarti memiliki banyak anak itu "salah", melainkan adanya risiko penurunan kualitas hidup jika tidak dibarengi dengan perencanaan finansial dan mental yang sangat matang.

Zaman sekarang, fokus banyak orang bergeser dari memiliki banyak anak menjadi mencetak anak yang berkualitas tinggi.


Semoga artikel nya bermanfaat'ah..

😀

Komentar