Servomekanisme: "Sistem Otomatis" di Dalam Diri yang Menentukan Nasib Kita

Pernahkah kita merasa bahwa hidup kita seolah-olah berjalan dalam sebuah pola yang terus berulang? 

Misalnya, setiap kali kita memegang uang dalam jumlah tertentu, tiba-tiba ada saja kebutuhan mendadak yang membuat uang itu habis.

Atau sebaliknya, ada orang yang sepertinya selalu beruntung; ke mana pun mereka pergi, jalan seolah terbuka lebar bagi mereka.

Menurut pakar bisnis dan pikiran bawah sadar, Mardigu Wowiek (Bossman Mardigu), fenomena ini bukanlah kebetulan.

Hal ini disebabkan oleh sebuah sistem yang tertanam jauh di dalam pikiran bawah sadar manusia yang disebut sebagai Servomekanisme.


Apa Itu Servomekanisme?

Secara etimologi, servomekanisme berasal dari bahasa Latin yang berarti "sistem yang melayani". 

Dalam istilah teknis, ini adalah mekanisme kontrol otomatis yang bekerja berdasarkan umpan balik (feedback) untuk mencapai target tertentu.

Mirip dengan sistem rudal pencari panas yang akan terus mengoreksi arahnya hingga mengenai sasaran.

Dalam konteks manusia, Mardigu menjelaskan bahwa servomekanisme adalah Automatic Guided System yang terpasang di pikiran bawah sadar.

Sistem inilah yang melayani kehidupan kita berdasarkan "program" atau "pola" yang telah terbentuk sejak lama.

Ada berbagai jenis servo dalam diri manusia:

  • Servo Keberuntungan: Orang yang selalu merasa mudah mendapatkan peluang.
  • Servo Kesialan: Orang yang merasa masalah selalu datang bertubi-tubi.
  • Servo Kantong Kosong: Pola di mana seseorang sulit mempertahankan kekayaan.


Bagaimana Servomekanisme Bekerja?

Pikiran bawah sadar kita tidak mengenal nilai "baik" atau "buruk".

Ia hanya menjalankan perintah berdasarkan pola yang sudah ada.

Jika servomekanisme kita disetel pada pola "sulit mencari uang", maka meskipun kita bekerja sangat keras, sistem batin kita akan secara otomatis mencari jalan (secara tidak sadar) untuk membuat kita kembali ke kondisi sulit tersebut.

Kabar baiknya, pola ini bisa dibongkar dan dipasang ulang.

Namun, Mardigu mengingatkan bahwa mengubah pola ini ibarat belajar ilmu silat; diperlukan latihan yang diulang-ulang, perubahan perilaku, dan keberanian untuk memutus kebiasaan lama.


Langkah Praktis Memprogram Ulang Servomekanisme kita

Dalam serinya, Mardigu memberikan beberapa tugas penting untuk mulai mengenali dan mengubah servo kita:

1. Kenali Pola Keuangan kita (Who You Are)

Cobalah amati bagaimana uang datang kepada kita dalam 1-3 tahun terakhir.

Apakah melalui kerja keras keringat sendiri, melalui pemberian orang lain, atau melalui hal-hal tak terduga?

Catat pola ini. Kegagalan seseorang seringkali dimulai dari ketidaktahuan mereka terhadap pola dirinya sendiri.


2. Pahami Posisi kita (Where You Are)

Tentukan apakah kita tipe yang mandiri (independent) atau bergantung pada jaringan (dependent). 

Dengan mengetahui kapasitas diri, kita akan lebih mudah mencari "cantolan" atau jaringan bisnis yang tepat untuk memperluas kemakmuran kita.


3. Simulasi Mental dan Dukungan Lingkungan

Mardigu menceritakan sebuah eksperimen menarik tentang pemain basket.

Seseorang yang belum pernah bermain basket bisa memasukkan bola lebih banyak hanya karena mendapatkan dukungan (tepuk tangan dan sorakan) dari orang sekitarnya, meskipun awalnya dia gagal.

Dukungan positif dari lingkungan dapat mengubah kimiawi di otak dan membentuk pathway (jaringan saraf) baru.

Pikiran bawah sadar akan mulai percaya bahwa kita "bisa", dan sistem servomekanisme kita akan mulai mengarahkan kita menuju kenyataan tersebut.


Kesimpulan: Pilih Lingkungan kita

Ujung dari perubahan servomekanisme adalah pemilihan lingkungan.

Sangat disarankan untuk berkumpul dengan orang-orang yang mendukung pertumbuhan kita.

Pastikan kita berada di lingkungan yang membuat kita menjadi lebih sehat, lebih makmur, dan memiliki nilai diri yang lebih tinggi.

Ingat, nasib kita bukan ditentukan oleh keberuntungan semata, melainkan oleh sistem otomatis yang kita izinkan berjalan di dalam diri kita.

Saatnya mengambil kendali dan menyetel ulang "rudal" kesuksesan kita sekarang juga.


Komentar