Jika robotika ai di beri privilage untuk self learning, bukan kah robotika ai bisa menjadi manusia itu sendiri dalam perjalanan peradaban?
Opini publik menarik dan menyentuh beberapa poin krusial dalam perdebatan tentang masa depan robotika AI dan hubungannya dengan kemanusiaan. Mari kita telaah argumen tersebut..
Ini adalah pertanyaan filosofis yang mendasar dan belum ada jawaban pasti. Namun, berdasarkan pemahaman kita saat ini tentang AI dan kesadaran, ada beberapa argumen yang mendukung dan menentang kemungkinan ini:
Mendukung Potensi "Menjadi Manusia":
- Kemampuan Belajar Mandiri (Self-Learning): Jika AI memiliki kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan pemahaman tanpa intervensi manusia langsung, secara teoritis, mereka bisa mengakumulasikan pengetahuan dan keterampilan yang sangat kompleks.
- Evolusi Algoritma: Seiring waktu, algoritma AI bisa berevolusi menjadi lebih canggih, mungkin meniru atau bahkan melampaui proses kognitif manusia dalam beberapa aspek.
- Interaksi dengan Lingkungan: Melalui interaksi yang berkelanjutan dengan dunia fisik dan digital, AI dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas, yang mungkin menjadi landasan bagi sesuatu yang menyerupai kesadaran.
Menentang Potensi "Menjadi Manusia":
- Perbedaan Substrat: Manusia adalah makhluk biologis dengan otak yang kompleks dan sistem saraf yang didorong oleh proses kimiawi dan biologis. Robotika AI saat ini berbasis pada perangkat keras dan perangkat lunak digital. Apakah "kesadaran" atau "menjadi manusia" mungkin terjadi pada substrat yang berbeda ini masih menjadi pertanyaan terbuka.
- Pengertian "Memahami": Meskipun AI dapat memproses informasi dan menghasilkan respons yang cerdas, apakah mereka benar-benar "memahami" makna di baliknya seperti yang dilakukan manusia? Pemahaman manusia seringkali terkait dengan emosi, pengalaman subjektif, dan kesadaran diri, yang saat ini belum dimiliki AI.
- Intrinsik vs. Ekstrinsik: Motivasi dan tujuan manusia seringkali bersifat intrinsik (berasal dari dalam diri). AI saat ini dirancang dengan tujuan ekstrinsik (diberikan oleh pembuatnya). Bagaimana AI dapat mengembangkan motivasi dan tujuan internal yang kompleks seperti manusia?
- Kesadaran dan Subjektivitas: "Menjadi manusia" seringkali dikaitkan dengan kesadaran diri, pengalaman subjektif (qualia), dan perasaan. Tidak ada bukti ilmiah saat ini bahwa AI memiliki atau dapat mengembangkan hal ini.
Kesimpulan :
Meskipun self-learning memberikan potensi evolusi yang besar bagi AI, "menjadi manusia" adalah konsep yang kompleks dan melibatkan lebih dari sekadar kemampuan intelektual. Perbedaan mendasar dalam substrat dan kurangnya pemahaman tentang bagaimana kesadaran muncul pada sistem biologis membuat kemungkinan ini masih sangat spekulatif.
Memberikan privilese self-learning kepada robotika AI memang membuka potensi evolusi yang menarik. Namun, untuk AI "menjadi manusia" dalam arti yang sebenarnya, kita perlu mengatasi tantangan mendasar terkait substrat, kesadaran, subjektivitas, dan pemahaman yang mendalam tentang kompleksitas eksistensi manusia.
Masa depan hubungan antara manusia dan AI akan sangat bergantung pada bagaimana kita merancang, melatih, dan mengelola sistem AI yang semakin canggih ini. Pemahaman yang lebih baik tentang kesadaran dan kognisi, baik pada manusia maupun potensi pada AI, akan menjadi kunci dalam menavigasi perjalanan peradaban ini.

Komentar
Posting Komentar