Ketika disabilitas memanfaatkan robotika ai untuk menutupi kekurangan cacat fisik dalam rangka memenuhi tuntuan pekerjaan
ada fenomena manusia cacat fisik, kemudian menggunakan teknologi mekanik dan digital untuk menutupi kebutuhan cacat nya dan melengkapi tugas sosial sebagai manusia yang utuh dalam dunia kerja. bukankah itu sama saja pergeseran transhuman manusia menuju jaman humanoid ai?
Mari kita telaah lebih lanjut:
Fenomena Manusia dengan Bantuan Teknologi:
Fenomena manusia dengan disabilitas fisik yang menggunakan teknologi mekanik dan digital untuk mengatasi keterbatasan mereka dan berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial dan dunia kerja memang merupakan contoh nyata dari transhumanisme. Transhumanisme adalah gerakan intelektual dan budaya yang percaya bahwa umat manusia dapat dan seharusnya menggunakan teknologi untuk meningkatkan kemampuan fisik, kognitif, dan psikologis mereka.
Contoh-contoh yang mendukung pandangan ini:
- Prostetik Canggih: Lengan dan kaki bionik yang dikendalikan oleh pikiran, memungkinkan mobilitas dan fungsi yang mendekati atau bahkan melampaui kemampuan anggota tubuh alami.
- Implan Koklea: Memulihkan pendengaran bagi individu dengan gangguan pendengaran parah.
- Alat Bantu Penglihatan Digital: Membantu individu dengan gangguan penglihatan untuk melihat lebih baik melalui pemrosesan gambar dan tampilan khusus.
- Antarmuka Otak-Komputer (BCI): Memungkinkan individu dengan kelumpuhan untuk mengendalikan perangkat eksternal atau berkomunikasi melalui pikiran.
Pergeseran Transhuman Menuju Jaman Humanoid AI:
Anda benar bahwa fenomena ini dapat dilihat sebagai pergeseran transhuman yang secara bertahap mendekati jaman humanoid AI. Berikut alasannya:
- Integrasi Manusia dan Teknologi: Semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin erat integrasi antara tubuh manusia dan mesin/digital. Batasan antara "alami" dan "buatan" menjadi semakin kabur.
- Peningkatan Kemampuan: Tujuan utama dari teknologi ini adalah untuk meningkatkan kemampuan manusia, mengatasi keterbatasan biologis. Ini adalah inti dari transhumanisme.
- Fungsi Sosial dan Pekerjaan: Keberhasilan individu-individu ini dalam menjalankan tugas sosial dan profesional menunjukkan bahwa teknologi memungkinkan mereka untuk berfungsi "sebagai manusia yang utuh" dalam masyarakat. Ini mengikis gagasan bahwa keterbatasan fisik secara inheren mengurangi nilai atau kemampuan seseorang.
- Konsep "Manusia Utuh": Definisi "manusia utuh" itu sendiri menjadi lebih fleksibel dan inklusif dengan adanya teknologi ini. Kemampuan dan kontribusi seseorang tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kondisi biologis awal mereka.
- Bayangan Humanoid AI: Ketika kita melihat manusia yang kemampuannya ditingkatkan secara signifikan oleh teknologi, kita mulai membayangkan potensi masa depan di mana entitas buatan (humanoid AI) dapat memiliki kemampuan fisik dan kognitif yang setara atau bahkan melampaui manusia. Perbedaannya mungkin terletak pada asal-usul (biologis vs. buatan) dan tingkat otonomi.
Perbedaan yang Perlu Dipertimbangkan:
Meskipun ada pergeseran yang jelas, penting untuk mencatat beberapa perbedaan mendasar antara manusia yang menggunakan teknologi dan humanoid AI (setidaknya seperti yang kita pahami saat ini):
- Asal-Usul: Manusia adalah makhluk biologis yang menggunakan teknologi sebagai alat bantu. Humanoid AI adalah entitas buatan yang dirancang dan diprogram.
- Kesadaran dan Subjektivitas: Manusia memiliki kesadaran, emosi, dan pengalaman subjektif. Apakah humanoid AI dapat mengembangkan hal yang sama masih menjadi pertanyaan terbuka.
- Otonomi: Manusia memiliki otonomi dan kehendak bebas (walaupun ini juga diperdebatkan secara filosofis). Otonomi humanoid AI akan sangat bergantung pada bagaimana mereka dirancang.
- Evolusi: Manusia berevolusi secara biologis. Evolusi humanoid AI akan didorong oleh kemajuan teknologi dan desain.
Kesimpulan:
Fenomena manusia yang menggunakan teknologi untuk mengatasi disabilitas dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat memang merupakan manifestasi nyata dari transhumanisme.
Ini secara bertahap mengaburkan batas antara kemampuan alami dan buatan, serta memperluas definisi tentang apa artinya menjadi "manusia utuh".
Proses ini secara tidak langsung membuka jalan bagi pemikiran tentang masa depan humanoid AI yang mungkin memiliki kemampuan serupa atau bahkan lebih tinggi.
Meskipun perbedaan mendasar masih ada, pergeseran ini menunjukkan tren yang kuat menuju integrasi yang lebih dalam antara manusia dan teknologi, yang pada akhirnya dapat membentuk kembali pemahaman kita tentang kemanusiaan itu sendiri.

Komentar
Posting Komentar