Makanan berlimpah, air tak terbatas, perlindungan dari penyakit, dan tidak ada predator.
Terdengar seperti surga?
Bagi etolog John B. Calhoun, kondisi ini adalah awal dari sebuah eksperimen mengerikan yang dikenal sebagai Universe 25.
Eksperimen ini bukan hanya tentang tikus, melainkan cermin retak bagi masa depan peradaban manusia.
1. Membangun "Surga" untuk Tikus
Pada akhir tahun 1960-an, Calhoun membangun sebuah habitat seluas 2,5 meter persegi untuk tikus. Habitat ini dirancang untuk menampung hingga 3.840 ekor dengan fasilitas mewah:
- Makanan & Air: Tersedia secara instan dan tanpa batas.
- Keamanan: Bebas dari predator dan suhu yang diatur sempurna.
- Kesehatan: Pembersihan rutin untuk mencegah wabah.
Calhoun memulai dengan 4 pasang tikus.
Dalam kondisi ideal ini, populasi meledak.
Setiap 55 hari, jumlah tikus berlipat ganda.
Namun, ada satu variabel yang tidak bisa ditambah: Ruang.
2. Fase "Behavioral Sink": Runtuhnya Norma Sosial
Ketika populasi mencapai 2.200 ekor (masih jauh di bawah kapasitas maksimal habitat), sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Alih-alih hidup damai, masyarakat tikus ini mengalami kerusakan perilaku total yang disebut Calhoun sebagai Behavioral Sink.
- Agresi Tanpa Alasan: Tikus jantan menjadi sangat agresif, menyerang sesamanya tanpa provokasi.
- Pengabaian Anak: Tikus betina kehilangan insting keibuan; mereka mulai menyerang anak-anak mereka sendiri atau menelantarkan mereka.
- Kematian Sosial: Munculnya kelompok yang disebut "The Beautiful Ones".
"The Beautiful Ones": Kelompok tikus jantan yang menarik diri dari kehidupan sosial. Mereka tidak mau kawin, tidak mau berkelahi, dan hanya menghabiskan waktu untuk makan, tidur, dan bersolek (grooming). Meski secara fisik sehat dan "tampan", mereka telah "mati" secara mental.
3. Kepunahan di Tengah Kelimpahan
Hasil akhirnya sangat tragis.
Meskipun makanan masih melimpah, tingkat kelahiran turun menjadi nol.
Tikus-tikus yang tersisa kehilangan kemampuan untuk berinteraksi secara sosial maupun seksual.
Universe 25 berakhir dengan kematian tikus terakhir.
Eksperimen ini membuktikan bahwa tanpa tantangan, stres yang sehat, dan peran sosial, sebuah spesies akan mengalami "kematian pertama" (kematian jiwa) sebelum akhirnya menghadapi kematian fisik.
Pelajaran bagi Kita: Apakah Manusia Menuju ke Sana?
Banyak kritikus berpendapat bahwa manusia berbeda dengan tikus.
Kita punya teknologi, moral, dan akal. Namun, para sosiolog melihat kemiripan yang mengkhawatirkan dengan fenomena modern:
- Isolasi Sosial: Meningkatnya jumlah orang yang menarik diri dari masyarakat (seperti fenomena Hikikomori).
- Kepadatan Urban: Stres akibat ruang hidup yang semakin sempit di kota besar.
- Konsumerisme Pasif: Ketika kebutuhan terpenuhi secara instan, kita berisiko kehilangan makna hidup dan tujuan.
Kesimpulan
Universe 25 bukan sekadar cerita tentang tikus di dalam kotak.
Ini adalah pengingat bahwa kesejahteraan fisik semata tidak menjamin keberlangsungan hidup.
Kita membutuhkan koneksi, peran sosial, dan mungkin sedikit perjuangan untuk menjaga kemanusiaan kita tetap hidup.
"I shall largely speak of mice, but my thoughts will be on man. (Saya akan banyak berbicara tentang tikus, tetapi pikiran saya akan tertuju pada manusia.)" — John B. Calhoun.

Komentar
Posting Komentar