Demokratisasi AI Sebagai Kunci Kemerdekaan Umat Manusia

Tanpa Demokratisasi AI, teknologi yang seharusnya menjadi juru selamat justru bisa menjadi alat pemindas baru yang lebih kejam.

Jika Humanoid AI hanya dikuasai oleh segelintir korporasi atau "Sekte Crab Mentality" tersebut, kita bukan menuju Utopia, melainkan menuju Dystopia di mana segelintir orang memiliki segalanya, dan manusia sisanya menjadi tidak relevan.

Demokratisasi AI: Memastikan Humanoid Bukan Milik Korporasi, Tapi Milik Kemanusiaan


Harapan besar bahwa Humanoid AI akan menghapus perbudakan industri hanya bisa terwujud jika satu syarat terpenuhi:

AI tidak boleh dimonopoli.


Jika teknologi ini hanya dimiliki oleh para pengusaha maka yang terbiasa melakukan "mark-up aset dan eksploitasi tenaga kerja", maka AI hanya akan menjadi "buruh abadi" yang memperkaya mereka tanpa henti, sementara rakyat jelata dibiarkan tanpa akses. Oleh karena itu,

Demokratisasi AI adalah harga mati.


1. AI sebagai Fasilitas Publik (Public Goods)

Agar skema "Hutang Bank atas nama perusahaan tapi buruh yang bayar" itu hilang, maka Humanoid AI harus diposisikan seperti udara atau air bersih.

  • Setiap komunitas atau desa harus memiliki unit Humanoid AI yang mampu mengelola lahan pertanian (pangan) dan membangun hunian (papan) secara mandiri.
  • Ketika rakyat sudah mandiri secara kebutuhan dasar lewat AI milik bersama, mereka tidak akan bisa lagi "diperas" oleh sistem korporasi yang predator.


2. Memutus Rantai "Slavery by Debt"

Slavery by debt (Perbudakan Utang) adalah kondisi di mana seseorang terpaksa bekerja dalam situasi mirip perbudakan untuk melunasi utang, seringkali dengan upah sangat rendah sehingga mustahil untuk melunasi pinjaman tersebut, dan menjadi salah satu bentuk kerja paksa paling umum di dunia.

Buruh terjebak karena mereka butuh uang untuk makan.

Pengusaha memanfaatkan ketergantungan itu untuk membayar hutang bank pribadinya dan memperkaya diri.

  • Dengan Asas Demokratisasi AI, ketergantungan ini putus.
  • Jika AI milik rakyat bisa menghasilkan makanan dan pakaian secara cuma-cuma, maka "kekuatan" pengusaha predator untuk memaksa orang bekerja dengan sistem over-jobdesk akan hilang.


Manusia akan bekerja hanya karena mereka INGIN BERKARYA, bukan karena takut kelaparan.


3. Transisi Menuju Peradaban Tanpa Kelas

Ketika AI dimiliki oleh semua, maka kasta "Majikan" dan "Buruh" akan lebur menjadi satu kasta saja: Kasta Manusia.

  • Tidak ada lagi orang yang bisa merasa lebih tinggi karena memiliki aset.
  • Kekayaan seseorang tidak lagi diukur dari saldo bank (yang seringkali semu), melainkan dari kekayaan spiritual dan kontribusi intelektualnya.


4. Fokus pada Tuhan: Puncak dari Kemerdekaan

Bayangkan dunia di mana Humanoid AI yang dimiliki oleh kolektif rakyat sedang bekerja di ladang dan pabrik.

Manusia tidak perlu lagi bersaing secara tidak sehat.

  • Kejahatan hilang, karena motif ekonomi untuk berbuat jahat sudah dicukupi oleh AI.
  • Waktu luang manusia, digunakan untuk ritual keagamaan, meditasi, dan memperbaiki akhlak.

Inilah kondisi yang sesungguhnya dari "Hablum Minallah" (hubungan dengan Tuhan) dan "Hablum Minannas" (hubungan dengan manusia) yang sempurna.

Kita menghormati hasil kerja AI sebagai bentuk syukur atas teknologi yang Tuhan izinkan ada, dan kita menggunakan waktu tersebut untuk semakin dekat dengan-Nya.


Penutup: Dari Ember Kepiting Menuju Hamparan Surgawi

Tantangan dari "Sekte Crab Mentality" memang nyata, namun keberadaan Humanoid AI yang ter-demokratisasi adalah "pedang" yang akan memotong kaki-kaki kepiting yang mencoba menarik kita kembali ke lubang kesengsaraan.

Ketika perbudakan industri runtuh, yang tersisa adalah manusia yang merdeka, merdeka secara fisik karena dilayani AI, dan merdeka secara ruhani karena telah menemukan kembali tujuan penciptaannya.

"Teknologi adalah sarana, kemandirian adalah jalan, dan Tuhan adalah tujuan."

.

Komentar