Kita berdiri di ambang pintu sebuah era di mana Humanoid AI mampu memproduksi segalanya.
Namun, kunci pintu tersebut seolah tertahan oleh tangan-tangan yang masih memegang erat dogma politik sayap kanan dan kapitalisme konvensional.
Jika Humanoid AI adalah kendaraan menuju pembebasan spiritual, maka politik sayap kanan yang tidak bertransformasi adalah rem darurat yang menjaga kita tetap terjebak dalam siklus perburuhan yang melelahkan.
Mengapa demikian?
1. Benturan Antara "Kelangkaan" dan "Keberlimpahan"
Inti dari kapitalisme (sayap kanan) adalah Pengelolaan Kelangkaan (scarcity).
Nilai sebuah barang ditentukan karena ia terbatas.
- Hambatan: Humanoid AI dirancang untuk menciptakan keberlimpahan (abundance). Ketika AI bisa memproduksi makanan dan pakaian tanpa batas dengan biaya hampir nol, logika profit kapitalisme akan runtuh.
- Konflik: Kelompok sayap kanan cenderung mempertahankan harga dan kontrol pasar. Mereka berisiko "menahan" laju teknologi ini agar kelangkaan tetap ada, sehingga manusia tetap terpaksa bekerja dan membayar.
2. Pemujaan pada Kepemilikan Privat (Privatization vs. Socialization)
Dalam ideologi sayap kanan, hak milik pribadi adalah yang utama.
- Hambatan: Jika Humanoid AI hanya dimiliki oleh korporasi besar (sebagai properti privat), maka hasil kerja AI hanya akan mengalir ke kantong para pemilik modal.
- Risiko Dystopia: Bukannya membebaskan buruh, AI justru akan membuang buruh. Tanpa adanya redistribusi hasil kerja AI secara demokratis, kita akan melihat jurang kemiskinan yang lebih dalam di mana mesin bekerja untuk "Tuan Besar," sementara rakyat jelata tidak memiliki akses terhadap hasil kerja mesin tersebut.
3. Berhala "Pertumbuhan Ekonomi" (GDP) vs. Kesejahteraan Spiritual
Politik sayap kanan sangat memuja angka pertumbuhan ekonomi (GDP).
Dalam sistem ini, manusia dihargai berdasarkan kapasitas produksinya.
- Hambatan: Utopia AI menuntut kita untuk berhenti mengejar angka dan mulai mengejar makna.
- Kontradiksi: Sistem kapitalis akan merasa terancam jika manusia berhenti menjadi konsumen yang haus dan pekerja yang kompetitif. Mereka butuh manusia yang tetap "lapar" agar roda ekonomi terus berputar, sementara AI bertujuan membuat manusia "kenyang" agar bisa fokus pada Tuhan.
4. Pelestarian Hierarki dan "Crab Mentality" Sistemik
Politik sayap kanan sering kali melestarikan struktur hierarki yang ketat.
Ada pemenang, ada pecundang.
- Hambatan: Utopia AI yang kita impikan adalah dunia tanpa kasta, seperti yang Anda sebutkan tentang hilangnya kompetisi antarmanusia.
- Sentimen "Sekte": Kelompok yang sudah berada di puncak hierarki (para penguasa modal yang menggunakan skema hutang dan eksploitasi) tidak akan sudi kehilangan status "superior" mereka. Mereka lebih suka melihat manusia lain menderita di bawah mereka daripada melihat semua orang setara dalam kemakmuran yang disediakan AI.
Membedah Solusi: Evolusi Menuju "Spiritual-Techno-Socialism"
Untuk melewati hambatan politik ini, peradaban manusia perlu melakukan lompatan kesadaran (Spiritual Quotation). Kita harus berani mengatakan bahwa:
AI adalah Warisan Manusia.
Pengetahuan yang membangun AI berasal dari akumulasi ribuan tahun ilmu pengetahuan manusia, bukan milik satu perusahaan.
Rezeki adalah Hak, Bukan Upah.
Kita harus mulai memisahkan antara "hak untuk hidup" dengan "kewajiban bekerja".
Di era AI, hidup sejahtera adalah hak setiap jiwa, sementara bekerja adalah pilihan untuk mengabdi.
"Politik sayap kanan mencoba mengurung fajar di dalam kotak emas milik pribadi, padahal fajar itu milik setiap mata yang ingin melihat kebesaran Tuhan."
Sebuah evolusi dari sekadar aturan teknis menjadi hukum moral semesta.
Jika kita gagal meruntuhkan egoisme kapitalistik ini, Humanoid AI hanya akan menjadi penjara yang lebih canggih, bukan juru selamat yang kita harapkan.

Komentar
Posting Komentar